Kriminalitas

Latar Belakang

Masyarakat modern yang serba kompleks sebagai produk kemajuan teknologi, mekanisasi, industrialisasi dan urbanisasi memunculkan banyak masalah sosial. Usaha adaptasi atau penyesuaian diri terhadap masyarakat modern sangat kompleks itu menjadi tidak mudah. Kesulitan mengadakan adaptasi menyebabkan banyak kebimbangan, kebingungan, kecemasan dan konflik, baik konflik eksternal yang terbuka, maupun yang internal dalam batin sendiri yang tersembunyi dan tertutup sifatnya. Sebagai dampaknya orang lalu mengembangkan pola tingkah-laku menyimpang dari norma-norma umum, dengan jalan berbuat semau sendiri demi keuntungan sendiri dan kepentingan pribadi, kemudian mengganggu dan merugikan pihak lain.

Kriminalitas atau kejahatan itu bukan merupakan peristiwa herediter (bawaan sejak lahir,warisan) juga bukan merupakan warisan biologis. Tingkah laku kriminal itu bisa dilakukan oleh siapapun juga, baik wanita maupun pria dapat berlangsung pada usia anak, dewasa ataupun lanjut umur. Tindak kejahatan bisa dilakukan secara tidak sadar, yaitu difikirkan, direncanakan dan diarahkan pada satu makksud tertentu secara sadar benar. Namun bisa juga dilakukan secara setengah sadar; misalnya didorong oleh impuls-impuls yang hebat, didera oleh dorongan-dorongan paksaan yang sangat kuat (kompulsi-kompulsi), dan oleh obsesi-obsesi. kejahatan bisa juga dilakukan secara tidak sadar sama sekali. Misalnya, karena terpaksa untuk mempertahankan hidupnya, seseorang harus melawan dan terpaksa membalas menyerang, sehingga terjadi peristiwa pembunuhan.

Masyarakat modern yang sangat kompleks itu menumbuhkan aspirasi-aspirasi materil tinggi, dan sering disertai oleh ambisi-ambisi sosial yang tidak sehat. Dambaan pemenuhan kebutuhan materil yang melimpah-limpah, misalnya untuk memiliki harta kekayaan dan barang-barang mewah, tanpa mempunyai kemampuan untuk mencapainya dengan jalan wajar, mendorong individu untuk melakukan tindak criminal. Dengan kata-kata lain bisa dinyatakan: jika terdapat diskrepansi (ketidaksesuaian, pertentangan) antara ambisi-ambisi dengan kemampuan pribadi, maka peristiwa sedemikian ini mendorong orang untuk melakukan tindak criminal. Atau, jika terdapat diskrepansi antara aspirasi-aspirasi dengan potensi-potensi personal, maka akan terjadi “maladjustment” ekonomis (ketidakmampuan menyesuaikan diri secara ekonomis), yang mendorong orang untuk bertindak jahat atau melakukan tindak pidana.

Dalam perkembangan masyarakat seperti ini, pengaruh budaya di luar sistem masyarakat sangat mempengaruhi perilaku anggota masyarakat itu sendiri, terutama anak-anak, lingkungan, khususnya lingkungan sosial, mempunyai peranan yang sangat besar terhadap pembentukan perilaku anak-anak, termasuk perilaku jahat yang dilakukan oleh anak-anak.

Beberapa waktu terakhir ini, banyak terjadi kejahatan atau perilaku jahat di masyarakat. Dari berbagai mass media, baik elektronik maupun cetak, kita selalu mendengar dan mengetahui adanya kejahatan atau perilaku jahat yang dilakukan oleh anggota masyarakat. Pelaku kejahatan atau pelaku perilaku jahat di masyarakat tidak hanya dilakukan oleh anggota masyarakat yang sudah dewasa, tetapi juga dilakukan oleh anggota masyarakat yang masih anak-anak atau yang biasa kita sebut sebagai kejahatan anak atau perilaku jahat anak.

Fakta menunjukkan bahwa semua tipe kejahatan anak itu semakin bertambah jumlahnya dengan semakin lajunya perkembangan industrialisasi dan urbanisasi. Kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak pada intinya merupakan produk dari kondisi masyarakatnya dengan segala pergolakan sosial yang ada di dalamnya. Kejahatan anak ini disebut sebagai salah satu penyakit masyarakat atau penyakit sosial. Penyakit sosial atau penyakit masyarakat adalah segala bentuk tingkah laku yang di anggap tidak sesuai, melanggar norma-norma umum, adat-istiadat, hukum formal , atau tidak bisa diintegrasikan dalam pola tingkah laku umum.

Kejahatan dalam segala usia termasuk remaja dan anak-anak dalam dasawarsa lalu, belum menjadi masalah yang terlalu serius untuk dipikirkan, baik oleh pemerintah, ahli kriminologi , penegak hukum, praktisi sosial maupun masyarakat umumnya.

Perilaku jahat anak-anak dan remaja merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak yang disebabkan oleh salah satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah-laku yang menyimpang. Pengaruh sosial dan kultural memainkan peranan yang besar dalam pembentukan atau pengkondisian tingkah-laku kriminal anak-anak dan remaja. Perilaku anak-anak  dan remaja ini menunjukkan tanda-tanda kurang atau tidak adanya konformitas terhadap norma-norma sosial.

Anak-anak dan remaja yang melakukan kejahatan itu pada umumnya kurang memiliki kontrol-diri, atau justru menyalahgunakan kontrol-diri tersebut, dan suka menegakkan standar tingkah-laku sendiri, di samping meremehkan keberadaan orang lain. Kejahatan yang mereka lakukan itu pada umumnya disertai unsur-unsur mental dengan motif-motif subyektif, yaitu untuk mencapai satu objek tertentu dengan disertai kekerasan. Pada umumnya anak-anak dan remaja tersebut sangat egoistis, dan suka sekali menyalahgunakan dan melebih-lebihkan harga dirinya.

Adapun motif yang mendorong mereka melakukan tindak kejahatan itu antara lain adalah :

  1. Untuk memuaskan kecenderungan keserakahan.
  2. Meningkatkan agresivitas dan dorongan seksual.
  3. Salah-asuh dan salah-didik orang tua, sehingga anak tersebut menjadi manja dan lemah   mentalnya.
  4. Hasrat untuk berkumpul dengan kawan senasib dan sebaya, dan kesukaan untuk meniru-niru.
  5. Kecenderungan pembawaan yang patologis atau abnormal.
  6. Konflik batin sendiri, dan kemudian menggunakan mekanisme pelarian diri serta pembelaan diri yang irrasional.

Pakar kriminologi Van S. Lambroso dengan teori Lambroso, yang menyebutkan sebab-sebab kejahatan seorang hanya dapat ditemukan dalam bentuk-bentuk fisik dan psikis serta ciri, sifat dari tubuh seseorang. Sebab-sebab kejahatan menjadi faktor utama dalam proses terbentuknya tindak pidana baik secara langsung maupun tidak langsung.

Untuk mencari faktor yang lebih esensial dari bentuk tindak pidana/ kejahatan yang dilakukan secara sempurna kedudukan ini dapat diartikan dengan faktor kejahatan yang timbul secara ekstern (faktor luar) maupun intern (faktor dalam) dari pelaku tindak pidana kejahatan seseorang. Secara implisit berbagai faktor dapat dijadikan sebagai sistem untuk merumuskan kejahatan pada umumnya ataupun kejahatan anak pada khususnya. Berbeda dengan seseorang anak atau pun  dalam melakukan kejahatan, tampak bahwa faktor-faktor apapun yang di dapat pada diri anak dan remaja yang jelas semuanya tidak terstruktur maupun disikapi terlebih dahulu.

Masyarakat yang baik di masa yang akan mendatang bergantung dan diawali pada perilaku anak-anak dan remaja sekarang sebagai generasi penerus. Anak-anak  atau pun remaja yang baik dalam berperilaku sangat menunjang terbentuknya sistem sosial masyarakat. Oleh karena itu permasalahan perilaku jahat anak-anak dan remaja  perlu segera mendapat ekstra perhatian demi terbentuknya sistem sosial masyarakat yang baik.

PEMBAHASAN

Definisi Kriminalitas

Kriminalitas atau tindak kriminal segala sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan. Pelaku kriminalitas disebut seorang kriminal. Biasanya yang dianggap kriminal adalah seorang pencuri, pembunuh, perampok, atau teroris. Walaupun begitu kategori terakhir, teroris, agak berbeda dari kriminal karena melakukan tindak kejahatannya berdasarkan motif politik atau paham.

Arti hukum menurut Immanuel Kant sendiri yaitu : “noch suchen die yuristen eine definition zu ihrem begriffe von recht”. (L.j Van Apeldoorn,Pengantar Ilmu Hukum,Pradnya Paramita,Jakarta,1981,hlm.13)

Selama kesalahan seorang kriminal belum ditetapkan oleh seorang hakim, maka orang ini disebut seorang terdakwa. Sebab ini merupakan asas dasar sebuah negara hukum: seseorang tetap tidak bersalah sebelum kesalahannya terbukti. Pelaku tindak kriminal yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan harus menjalani hukuman disebut sebagai terpidana atau narapidana.

Secara yuridis formal, kriminalitas adalah bentuk tingkah laku yang bertentangan dengan moral kemanusiaan (immoril), merugikan masyarakat, asocial sifatnya dan melanggar hukum serta undang-undang pidana didalam perumusan pasal-pasal kitab undang-undang hukum  pidana (KUHP)  jelas tercantum: kejahatan adalah semua bentuk perbuatan yang memenuhi perumusan ketentuan-ketentuan KUHP. Misalnya pembunuhan adalah perbuatan yang memenuhi perumusan pasal 388 KUHP, mencuri memenuhi bunyi pasal 362 KUHP, sedang kejahatan penganiayaan memenuhi pasal 351 KUHP. Ringkasnya, secara yuridis formal, kejahatan adalah bentuk tingkah laku yang melanggar undang-undang pidana. Selanjutnya semua tingkah laku yang dilarang oleh undang-undang, harus disingkiri. Barang siapa melanggarnya, dikenai pidana. Maka larangan-larangan dan kewajiban-kewajiban tertentu yang harus ditaati oleh setiap warga Negara itu tercantum pada undang-undang dan peraturan-peraturan pemerintah, baik yang dipusat maupun pemerintah daerah.

Secara sosiologis, kriminalitas adalah semua bentuk ucapan, perbuatan, dan tingkah laku yang secara ekonomis, politis dan social psikologis sangat merugikan masyarakat, melanggar norma-norma susila, dan menyerang keselamatan warga masyarakat (baik yang telah tercakup dalam undang-undang, maupun yang belum tercantum dalam undang-undang pidana).

Dari segi kriminologi, setiap tindakan atau perbuatan tertentu yang tindakan disetujui oleh masyarakat diartikan sebagai kejahatan. Ini berarti setiap kejahatan tidak harus dirumuskan terlebih dahulu dalam suatu peraturan hukum pidana. Jadi setiap perbuatan yang anti sosial,merugikan serta menjengkelkan masyarakat,secara kriminologi dapat dikatakan sebagai kejahatan.

Arti kriminalitas jika dilihat dengan kaca mata hukum, mungkin adalah yang paling mudah dirumuskan secara tegas dan konvensional. Menurut hukum kejahatan adalah perbuatan manusia yang melanggar atau bertentangan dengan apa yang ditentukan dalam kaidah hokum; tegasnya perbuatan yang melanggar larangan yang ditetapkan dalam kaidah hokum,dan tidak memenuhi atau melawan perintah-perintah yang telah ditetapakan dalam kaidah hokum yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan bertempat tinggal.(Soedjono. D,S.H.,ilmu Jiwa Kejahatan,Amalan, Ilmu Jiwa Dalam Studi Kejahatan,Karya Nusantara,Bandung,1977,hal 15).

Dari segi apa pun dibicarakan suatu tindakan kriminalitas, perlu diketahui bahwa kriminalitas bersifat relative. Dalam kaitan dengan sifat relatifnya kriminalitas, G. Peter Hoefnagels menulis sebagai berikut : (Marvin E Wolfgang et. Al., The Sociology of Crime and Delinquency, Second Edition, Jhon Wiley, New York,1970,hlm. 119.)

We have seen that the concept of crime is highly relative in comment parlance. The use of term “crime” in respect of the same behavior differs from moment to moment (time), from group to group (place) and from context to (situation).

Relatifnya kriminalitas bergantung pada ruang, waktu, dan siapa yang menamakan sesuatu itu kejahatan. “Misdad is benoming”, kata Hoefnagels; yang berarti tingkah laku didefenisikan sebagai jahat oleh manusia-manusia yang tidak mengkualifikasikan diri sebagai penjahat. (J.E. Sahetapy, Kapita Selekta Kriminologi,Alumni, Bandung, 1979,hlm.67.)

Dalam konteks itu dapat dilakukan bahwa kriminalitas adalah suatu konsepsi yang bersifat abstrak. Abstrak dalam arti ia tidak dapat diraba dan tidak dapat dilihat,kecuali akibatnya saja.

Tingkah laku manusia yang jahat, immoral dan anti-social itu banyak menimbulkan reaksi kejengkelan dan kemarahan dikalangan masyarakat, dan jelas sangat merugikan umum. Karena itu, kejahatan tersebut harus diberantas, atau tidak boleh dibiarkan berkembang, demi ketertiban, keamanan dan keselamatan masyarakat. Maka warga masyarakat secara keseluruhan, bersama-sama dengan lembaga-lembaga yang resmi yang berwenang seperti kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga kemasyarakatan, dan lain-lain termasuk wajib menanggulangi kegiatan sejauh mungkin.

Beberapa Teori Mengenai Kejahatan

  • Teori theologis

Teori ini menyatakan kriminalitas sebagai perbuatan dosa yang jahat sifatnya. Setiap orang normal bisa melakukan kejahatan sebab didorong oleh roh-roh jahat dan godaan “syetan/iblis” atau nafsu-nafsu durjana angkara, dan melanggar kehendak Tuhan. Dalam keadaan setengah atau tidak sadar terbujuk oleh godaan iblis, orang baik-baik bisa menyalahi perintah-perintah Tuhan dan melakukan kejahatan. Maka, barang siapa melanggar perintah Tuhan, dia harus mendapat hukuman sebagai penebus dosa-dosanya.

  • Teori filsafat tentang manusia (antropologi transcendental)

Menyebutkan adanya dialektika antar pribadi/personal jasmani dan pribadi rohani. Personal rohani disebut pula sebagai JIV atau jiwa, yang berarti “lembaga kehidupan” atau ”daya kurang hidup.” Jiwa ini merupakan prinsip keselesain dan kesempurnaan, dan sifatnya baik, sempurna serta abadi tidak ada yang perlu diperbaiki lagi. Oleh karena itu jiwa mendorong manusia kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan susila, mengarahkan manusia pada usaha transendensi-diri[4] dan konstruksi diri.

  • Teori kemauan bebas (free will)

Teori ini menyatakan, bahwa manusia itu bisa bebas berbuat menurut kemauannya. Dengan kemauan bebas dia dia berhak menentukan pilihan dan sikapnnya. Untuk menjamin agar supaya setiap perbuatan berdasarkan kemauan bebas itu cocok dengan keinginan masyarakat, maka manusia harus diatur dan ditekan, yaitu dengan: hukum, norma-norma social dan pendidikan.

Teori kemauan bebas tidk menyebutkan roh-roh jahat sebagai sebab kurang musabab kejahatan. Akan tetapi sebab kejahatan adalah kemauan manusia itu sendiri. Jika dia dengan sadar benar berkeinginan melakukan perbuatan durjana, maka tidak ada seorangpun, tidak satu dewapun, bahkan tidak bisa Tuhan dan sebuah kitab sucipun yang bisa melarang perbuatan kriminalnya. Orang-orang jahat yang sering melakukan tindak durjana, bikin onar dan kesengsaraan pada orang lain itu perlu ditindak, dihukum dan dididik kembali oleh masyarakat.

  • Teori penyakit jiwa

Teori ini menyebutkan adanya kelainan-kelainan yang bersifat sikis, sehingga individu yang berkelainan ini sering melakukan kejahatan-kejahatan. Penyakit jiwa tersebut berupa: psikopat dan defekt moral.

Psikopat adalah bentuk kekalutan mental yang ditandai dengan tidak adanya pengorganisasian dan pengintegrasian pribadi, orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral, dan selalu berkonflik dengan norma-norma social serta hukum, dan biasanya juga bersifat immoral.

Defect moral (defisiensi moral)[5] dicirikan dengan: individu-individu yang hidupnya delinquent/jahat, selalu melakukan kejahatan kedurjanaan, dan bertingkah laku a-sosial atau anti social, walaupun pada dirinya tidak terdapat penyimpangan atau gangguan intelektual (tapi ada disfungsi atau tidak berfungsinya intelegensi).

  • Teori fa’al tubuh (fisiologis)

Teori ini menyebutkan sumber kejahatan adalah: ciri-ciri jasmaniah dan bentuk jasmaniah. Yaitu pada bentuk tengkorak, wajah, dahi, hidung, mata, rahang, telinga, leher, lengan, tangan, jari-jari, kaki dan anggota badan lainnya. Semua ciri fisik itu mengkonstituir kepribadian seseorang dengan kecendrungan-kecendrungan criminal. Penganut-penganut teori ini antara lain ialah Dr.G.Frans joseph Call (sosiolog), August Comte dan M.B.Samson.

Sebenarnya, pelopor-pelopor dari terminology modren: Cecare Lombroso, Enrico Ferri (1856-1928)  dan Refaelle Garofalo, yang secara bersama-sama membangun “sekolah italia” (mashab italia).Lombroso berkeyakinan, bahwa orang-orang kriminil itu mempuyai konstitusi psikofisik dan type kepribadian yang abnormal, yang jelas bisa dibedakan dari orang-orang normal. Mereka itu memiliki stigmata (ciri-ciri, tanda selar) karakteristik, yang sifatnya bisa:

  1. Fisiologos-anatomis: dengan ciri-ciri khas pada tubuh dan anggota serta anomaly/kelainan jasmaniah.
  2. Psikologis: dengan ciri-ciri psikopatik, neurotic, atau gangguan system syaraf, psikotik atau gila, dan defect moral.
  3. Social: bersifat a-sosial, anti-sosial, dan mengalami disorientasi social.

Jumlah pembunuh-pembunuh kejam yang moral defisien, yang tidak memiliki perasaan belas kasihan dan prikemanusiaan,ada dua kali lipat banyaknya dari pada pembunuh-pembunuh normal. Juga pembakar-pembakar kronis, yaitu orang-orang  yang dihinggapi pyromania [6] lebih banyak yang defect/difisien moralnya. Pemerkosa-pemerkosa terhadap anak-anak kecil, dan mereka yang melakukan pemerkosaan seksuil tidak wajar, pada umumnya adalah defect moralnya.

Pengikut-pengikut Lombroso kemudian menjelaskan type-type kriminal dengan prinsip-prinsip atafisme. Prinsip ini menyatakan adanya proses kemunduran kepada pola-pola primitive dari speciesnya [7] yaitu tiba-tiba muncul ciri-ciri milik nenek moyang, yang semula lenyap selama berabad-abad, dan kini timbul kembali. Teori atafisme ini mencoba membuktikan dan membandingkan ciri-ciri karakteristik yang anatomis dan organic, diantara penjahat-penjahat dengan orang-orang primitive. Tenyata, bahwa ciri-ciri dan tingkah laku kaum kriminil itu mirip sekali dengan tingkah laku orang primitive yang liar-kejam dan berbarik, bengis lalim.

Menurut Esquirol, Pritchard, Despine, dan Maudsley, perangi dan tingkah laku kaum penjahat itu pada hakikatnya merupakan peristiwa moral insanity (kegilaan moral). Lombroso dan pengikut-pengikutnya dengan tegas menyatakn adanya “born criminals”, criminal sejak lahir dengan basis psiko-fisik yang epileptic. Dalam hal ini gejala moral insanity merupakan manifestasi primernya, sedang gejala epileptic/ayan adalah manifestasi sekundar, Keduanya merefeksikan prinsip atafisme. Pada umumnya, born criminals ini mempunyai stigmata jasmaniah yang menyolok.

Enrico ferri dengan pandangan sosiologisnya menyebutkan tiga factor penyebab kejahatan, yaitu:

  1. Individual (antropologis) yang meliputi: usia, seks atau jenis kelamin, status sipil, profesi atau pekerjaan, tempat tinggal/domisili, tingkat social, pendidikan, konstitusi organis dan psikis.
  2. Fisik (natural, alam): ras, suku, iklim, fertilitas, disporsisi bumi, keadaan alam diwaktu malam hari dan siang hari, musim, kondisi meteoric atau keruang angkasaan, kelembaban udara dan suhu.
  3. Sosial: antara lain: kepadatan penduduk, susunan masyarakat, adat istiadat, agama, orde pemerintah. Kondisi ekonomi dan indutri, pendidikan, jaminan social, lembaga legislative dan lembaga hukum, dan lain-lain.
  • Teori yang menitik beratkan pengaruh anthropologis

Teori ini menyatakan adanya ciri-ciri individual yang karakteristik, dan ciri anatomis yang khas menyimpang dalam kelompok ini dimasukkan teori atafisme. Sarjana ferrero berpendapat, bahwa teori atafisme itu memang mempunyai segi-segi kebenarannya, yaitu: orang-orang criminal itu mempunyai ciri-ciri psikis yang sama dengan orang-orang primitive, dalam hal: kemalasan, impulsifitas, cepat naik darah dan kegelisahan psiko- fisik. Semua sifat karakteristik ini menghambat mereka untuk mengadakan penyesuain diri terhadap peraturan-peraturan peradaban dan uniformitas kesusilaan.

  • Teori yang menitik beratkan factor social dari sekolah sosioligi perancis

Mashab ini dengan tegas menyatakan, bahwa pengaruh paling menentukan yang mengakibatkan kejahatan ialah: faktor-faktor eksternal atau lingkungan social dan kekuatan-kekuatan social. Gabriel Tarde dan Emile Durkheim menyatakan: kejahatan itu merupakan insiden alamiah. Merupakan gejala social yang tidak bisa dihindari dalam refolusi social, dimana secara mutlak terdapat satu minimum kebebasan individual untuk berkembang, juga tedapat tingkah laku masyarakat yang tidak bisa diduga-duga untuk mencuri keuntungan dalam setiap kesempatan. Dengan demikian ada fleksibilitas atau kecenderungan untuk melakukan kejahatan.

  • Mashab bio-sosiologis

Ringkasannya, pada saat sekarang ini, pendapat-pendapat yang menyatakan “ factor tunggal sebagai penyebab timbulnya kejahatan,” sudah banyak ditingalkan. Orang lebih banyak bertumpu pada prinsip “factor jamak sebagai penyebab kejahatan.”

  • Teori susunan ketatanegaraan

Beberapa filsuf dan negarawan, yaitu Plato (427-347 S.M), Aristoteles ( 384-322 S.M.) dan Thomas More dari Inggris ( 1478- 1535) Beranggapan, bahwa struktur ketatanegaraaan dan falsafah Negara itu turut menentukan ada dan tidaknya kejahatan. Jika susunan Negara baik dan pemerintahannya bersih, serta mampu melaksanakan tugas memerintah rakyat dengan adil, maka banyak orang memenuhi kebutuhan vitalnya dengan cara masing-masing yang inkonvensional dan jahat atau kriminil.

  • Mashab spiritualis dengan teori non-religiusitas

Setiap agama mempunyai keyakinan pada Tuhan Yang Maha Esa itu selalu mengutamakan sifat-sifat kebaikan dan kebajikan, dan dengan sendirinya menjauhi kejahatan serta kemunafikan. Terutama kebajikan berdasarkan kasih sayang terhadap sesama makhluk. Maka, agama itu mempunyai pengaruh untuk mengeluarkan manusia dari rasa egoisme. Agama juga membukakan hati manusia kepada pengertian-pengertian absolute dan altruistis (cinta pada sesama manusia), dan melarang orang-orang melakukan kejahatan. Agama memperkenalkan nilai-nilai absolute dan nilai kemanusiaan yang luhur, yang besar sekali artinya bagi pengendalian diri dan penghindaran diri dari perbuatan angkara serta durjana.

Fungsi Dan Disfungsi Dari Kejahatan

Dalam masyarakat modern yang sangat kompleks dan heterogin, misalnya masyarakat urban, kota-kota besar dan metropolitan perangai anti-social dan kejahatan itu berkembang dengan cepatnya. Kondisi lingkungan dengan perubahan-perubahan yang cepat, norma-norma dan sanksi social yang semakin longgar serta macam-macam subkultur dan kebudayaan asing yang saling berkonflik, semua factor itu memberikan pengaruh yang mengacau, dan memunculkan disorganisasi dalam masyarakatnya. Muncullah banyak kejahatan. Maka, adanya kejahatan tersebut merupakan tantangan berat bagi para anggota-anggota masyarakat. Sebabnya ialah:

  1. Kejahatan yang bertubi-tubi itu memberikan efek yang mendemoralisir/merusak terhadap orde social.
  2. Menimbulkan rasa tidak aman, kecemasan, ketakutan dan kepanikan ditengah masyarakat.
  3. Banyak materi dan energy terbuang dengan sia-sia oleh gangguan-gangguan kriminalitas.
  4. Menambah beban ekonomis yang semakin besar kepada sebagian besar masyarakatnya.

Semua ini dapat disebut sebagai disfungsi social dari kejahatan. Selain itu ada juga fungsi social dari kejahatan yang dapat memberikan dampak positif, yaitu:

  1. Menumbuhkan rasa solidaritas dalam kelompok-kelompok yng tengah diteror oleh para penjahat.
  2. Muncullah kemudian tanda-tanda baru, dengan norma-norma susila yang lebih baik, yang diharapkan mampu mengatur  masyarakat dengan cara yang lebih baik dimasa-masa mendatang.
  3. Orang berusaha memperbesar kekuatan hukum, dan menambah kekuatan fisik lainnya untuk memberantas kejahatan.

Teori-Teori Terkait Kriminalitas

Terdapat kesulitan untuk menjelaskan kriminalitas anak-anak maupun remaja dari perspektif teoritis secara ketat, oleh karena itu lebih cenderung untuk melihat kriminalitas anak-anak maupun remaja sebagai bentuk perilaku menyimpang (deviant behavior) di masyarakat. Jika melihat dari sisi penyimpangan (deviant), maka setidaknya terdapat tiga teori utama yang dapat menjelaskan fenomena ini yaitu: struktural fungsional terutama anomie dari Durkheim dan Merton, interaksi simbolik terutama asosiasi diferensiasi dari Sutherland, danpower-confl ict terutama dari Young dan Foucault.

  • Struktural Fungsional

Struktural fungsional melihat penyimpangan terjadi pembentukan normal dan nilai-nilai yang dipaksakan oleh institusi dalam masyarakat. Penyimpangan dalam hal ini tidak lah terjadi secara alamiah namun terjadi ketika pemaksaan atas seperangkat aturan main tidak sepenuhnya diterima oleh orang atau sekelompok orang, dengan demikian penyimpangan secara sederhana dapat dikatakan sebagai ketidaknormalan secara aturan, nilai, atau hukum. Salah satu teori utama yang dapat menjelaskan mengenai penyimpangan ini adalah teori anomie dari Durkheim dan dari Merton.

Durkheim secara tegas mencoba meyakinkan bahwa terdapat hubungan terbalik antara integrasi sosial dan penaturan sosial dengan angka bunuh diri. Sekurangnya terdapat dua dimensi dari ikatan sosial (social bond), yakni integrasi sosial dan aturan sosial (social regulation) yang masing-masing independen, atau dalam3 istilah lain, besaran integrasi tidak menentukan besaran pengaturan, demikian pula sebaliknya, namun keduanya mempengaruhi ikatan sosial. Integrasi sosial dapat diterjemahkan sebagai keikutsertaan seseorang dalam kelompok dan institusi di mana aturan sosial merupakan pengikat kesetiaan terhadap norma dan nilai-nilai dalam masyarakat. Mereka yang sangat terintegrasi masuk dalam kategori ‘altruism’, dan yang sangat tidak terinterasi dalam kategori ‘egoism’. Demikian pula mereka yang sangat taat aturan masuk dalam kategori ‘fatalism’ dan mereka yang sangat tidak taat masuk dalam kategori ‘anomie’.

Teori anomie dari Durkheim dikembangkan oleh Merton sebagai bentuk alienasi diri dari masyarakat di mana diri tersebut membenturkan diri dengan norma-norma dan kepentingan yang ada di masyarakat. Dalam menjelaskan hal ini, Merton memfokuskan pada dua variabel, yakni tujuan (goals) dan ‘legitimate means’ ketimbang integrasi sosial dan pengaturan sosial. Dua dimensi ini menentukan derajat adaptasi masyarakat sesuai dengan tujuan-tujuan kultural (apa yang diinginkan oleh masyarakat mengenai kehidupan ideal) dan cara-cara yang dapat diterima di mana seorang individual dapat menuju tujuan-tujuan kultural. Merton sendiri membagi derajat adaptasi dengan lima kombinasi, yakni ‘conformity’, ‘innovation’, ‘ritualism’, ‘retreatism’, dan ‘rebellion’.

  • Interaksi Simbolik

Dalam pandangan interaksi simbolik, penyimpangan datang dari individu yang mempelajari perilaku meyimpang dari orang lain.Dalam hal ini, individu tersebut dapat mempelajari langsung dari penyimpang lainnya atau membenarkan perilakunya berdasarkan tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh orang lain. Sutherland mengemukakan mengenai teori ‘differential association’, di mana Sutherland menyatakan bahwa seorang pelaku kriminal mempelajari tindakan tersebut dan perilaku menyimpang dari pihak lain, bukan berasal dari dirinya sendiri. Dalam istilah lain, seorang tidak lah menjadi kriminal secara alami.

Tindakan mempelajari tindakan kriminal sama dengan berbagai tindakan atau perilaku lain yang dipelajari seseorang dari orang lain. Sutherland mengemukakan beberapa point utama dari teorinya, seperti ide bahwa belajar datang dari adanya interaksi antara individu dan kelompok dengan menggunakan komunikasi simbol-simbol dan gagasan. Ketika simbol dan gagasan mengenai penyimpangan lebih disukai, maka individu tersebut cenderung untuk melakukan tindakan penyimpangan tersebut. Dengan demikian, tindakan kriminal, sebagaimana perilaku lainnya, dipelajari oleh individu, dan tindakan ini dilakukan karena dianggap lebih menyenangkan ketimbang perilaku lainnya

  • Power-Conflict

Satu hal yang harus diperjelas, meskipun teori ini didasarkan atas pandangan Marx, namun Marx sendiri tidak pernah menulis tentang perilaku menyimpang. Teori ini melihat adanya manifestasi power dalam suatu institusi yang menyebabkan terjadinya penyimpangan, di mana institusi tersebut memiliki kemampuan untuk mengubah norma, status, kesejahteraan dan lain sebagainya yang kemudian berkonflik dengan individu. Meskipun Marx secara5

pribadi tidak menulis mengenai perilaku menyimpang, namun Marx menulis mengenai alienasi. Young (wikipedia t.t.b) secara khusus menyatakan bahwa dunia modern dapat dikatakan sangat toleran terhadap perbedaan namun sangat takut terhadap konflik sosial, meskipun demikian, dunia modern tidak menginginkan adanya penyimpang di antara mereka.

Nasehat paling mudah yang sering dilontarkan orang untuk mengatasi persoalan sosial adalah  memulai dari diri kita sendiri untuk membenahi karut marut persoalan sosial ini, namun langkah-langkah spektakuler mesti dilakukan pemerintah yang dimanahkan rakyat untuk memerintah-bukan menghimbau atau sekedar mengungkapkan rasa prihatin jikalau ingin sesegera mungkin memberantas kriminalitas.

~ by Hafez on 01/10/2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 634 other followers

%d bloggers like this: